momentum

Asslamualaiku Wr Wb.
Ada sedikit cerita yang saya dapatkan setelah Walking ke Blog orang lain.. dan saya mendapatkan kisah ini...Tanpa Basa Basi Inilah Kisahnya gan...
Selepas Isya, saya dan anak saya berangkat ke daerah. Ketika beranjak meninggalkan rumah, kusempatkan bertanya kepada anak saya, “ Sudah baca doa keluar rumah ?”, ia menatapku dan tertawa kecil sambil berkata, “ Lupa Pak”. Sesaat kemudian, ia berdoa, “Bismillah tawakkaltu alallah lahaula wala quwwata illa billah”. Mendengar itu, saya langsung mengacungkan jempol sambil memberi pujian. Kejadian yang baru saja berlangsung menyadarkan saya bahwa di dalam perjalanan hidup ini, kadang-kadang kita lebih banyak menghukum dari pada memberI penghargaan kepada anak ataupun anak didik kita. Akibatnya mereka tumbuh dengan rasa percaya diri yang kurang, bahkan dapat menjadikan mereka pribadi yang pesimistis apabila ketidak adilan itu berlebihan.
Bis dengan tag lan (label) Padaidi Padaelo Sipatuo Sipatokkong yang bermakna sesama kita, satu visi, saling menghidupkan dan saling mendukung atau menegakkan. Menjadi bis pilihan dalam perjalanan kami . Bis tersebut menjadi pilihan karena nuansa religius pengelolaan usahanya cukup terasa, misalnya sebelum berangkat , pemandu mengingatkan untuk berdoa memohon keselamatan ke hadirat Allah Swt. Begitu pula jika waktu shalat Subuh tiba, sopir akan berhenti di salah satu masjid, kemudian mengingatkan penumpang khususnya yang muslim untuk shalat subuh. Bukankah untuk menjadi baik kita harus meilih lingkungan yang kondusif pula ? Alternatifnya antara lain memilih bis yang pengelolaannya religius.
Kami berdua menggunakan satu tiket, sehingga kami harus duduk bersama dalam satu kursi. Untunglah bis tersebut memiliki fasilitas yang cukup baik. Kursinya fleksibel untuk diatur sehingga cukup untuk kami berdua, terlebih lagi anak saya baru berusia sepuluh tahun. Meskipun demikian, anak saya tetap protes karena merasa kurang nyaman. Kebetulan kursi di sebelah kami masih kosong. Sehingga rasa tidak nyaman anak saya tertolong dengan duduk gratis di kursi tersebut.
Di daerah Maros, mobil yang kami tumpangi beberapa kali berhenti untuk menaikkan penumpang . Rupanya bertambahnya penumpang menjadi perhatian anak saya sekaligus membuatnya gelisah. Hal itu membuat terbahasakan dalam doanya, Ya Allah, sesudah tiga penumpang yang baru naik ini, jangan lagi ada penumpang baru, agar saya tetap duduk gratis sampai tujuan.” Sepintas lalu doa itu adalah doa yang menarik karena mengisyaratkan kesadaran spiritualitas anak saya untuk berserah diri dan memohon pertolongan Allah Swt. Akan tetapi, kalau dicermati maka isi doanya kurang tepat. Usai ia berdoa, sayapun mengingatkannya, “ Nak, doamu tadi menzalimi kru bis dan bahkan berdampak kerugian bagi perusahaan angkutan ini.” “ Kenapa Pak ?” sergah anak saya yang kritis. “ Begini Nak. Kalau tidak ada penumpang yang naik untuk mengisi kursi ini, maka enak untukmu, tapi kerugian buat bis yang kita tumpangi ini karena tidak maksimal hasilnya, alias kurang satu penumpangnya.” Jadi, bagaimana Pak ?” “ Sekarang istigfar mohon ampun kepada Allah Swt atas kekeliruanmu dan berdoalah untuk kebaikan bersama.” Sejenak anak saya terdiam, kemudian terdengar ia berdoa “ Ya Allah, berikanlah kami semua keselamatan dan mudahkanlah perjalanan kami ini, amin.”
Bersamaan dengan kumandang azan subuh, kami tiba di ibu kota kecamatan, lalu melangkahkan kaki ke mesjid untuk shalat Subuh dan terus menunggu pagi untuk naik ojek ke desa kami. Ketika menunggu ojek, saya ingatkan anak saya akan doanya semalam di bis.” Nak, doamu yang dimulai dengan istigfar dan memohon keselamatan serta kemudahan bersama dalam perjalanan, ternyata diijabah Allah Swt. Kita semua selamat dan perjalanan dimudahkan, bahkan terkhusus untukmu kursi itu tetap gratis diperuntukkan Allah untuk engkau gunakan sampai tujuan tanpa engkau menzalimi siapapun. Itulah indahnya berserah diri dan memohon yang terbaik kepada Allah Swt .” Dengan ujung mata, saya melirik anak saya yang tersenyum puas dan bahagia.
Pembaca yang budiman, bagian dari hikmah ayat-ayat suci Alqur’an di turunkan melalui momen-momen tertentu agar meninggalkan efek yang lebih berkesan dan mendalam serta lebih kuat dan bijak didikannya seperti tampak pada paparan cerita di atas. Mari kita belajar dari hikmah tersebut,
Untuk memanfaatkan setiap momen sebagai media mendidik. Hal tersebut juga sebagai pendukung cara kerja otak kanan yang membutuhkan asosiasi.
Ini merupakan sepenggal kisah yang sangat besar nilai Ilmu yang terkandung di dalamnya.. semoga setelah membaca Artikel ini. Kita dapat mengambil Ibrah-nya Aminn..
Wassalam..
Penulis : Rahim Mayau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH KECAMATAN CIAMBAR, KABUPATEN SUKABUMI

Tips & Trik Unik yang Harus Anda Ketahui